SURABAYA - Kondisi klub-klub sepakbola Indonesia yang semakin tidak menentu, tidak hanya berimbas langsung kepada pemain maupun official tim. Tak kalah sengsara adalah pihak-pihak yang berada di belakang layar. Mereka yang seharunya mendapat kontribusi dari jasanya, malah sering berkorban.

Krisis finansial di sejumlah klub memaksa sejumlah orang yang berada di jajaran manajemen menanggung imbasnya. Memiliki tanggungjawab terhadap tim, mau tidak mau mereka harus berupaya keras untuk menjaga situasi walau kadang harus merugikan diri sendiri.

Terutama di klub Indonesian Premier League (IPL), urusan menalangi pembiayaan klub sudah sangat biasa. Persebaya Surabaya yang masuk kategori klub besar saja ternyata juga tak bisa menghindar dari situasi tersebut. CEO Persebaya Surabaya I Gede Widiade harus merogoh kocek pribadinya hingga Rp3,6 miliar.

Ketika nominal itu belum juga dilunasi PT Pengelola Persebaya, dia juga harus mengeluarkan dana untuk pembentukan tim musim depan. Sumber di internal Persebaya mengatakan, bantuan dari Gede tersebut untuk pembayaran gaji pemain yang sempat tertunggak beberapa bulan lalu.

“Jadi PT Pengelola Persebaya punya hutang sejumlah itu kepada Pak Gede. Belum jelas kapan akan dibayar. Itu belum termasuk hutang tunggakan yang belakangan belum terbayar untuk kebutuhan operasional. Tampaknya Pak Gede sudah mulai bosan karena belum ada kejelasan,” tutur sumber tersebut.

Sama dengan klub-klub IPL lainnya, Persebaya memang tengah mengalami krisis keuangan. Tunggakan di sejumlah pos terpaksa masih belum dibayar dan itu sempat memunculkan kegelisahan Bonek, supporter Persebaya. Persebaya juga dikabarkan belum mempunyai modal untuk mengontrak pemain.

Manajemen Persik Kediri senasib sepenanggungan. Sunardi, Manajer Persik Kediri musim lalu, juga harus nombok sekira Rp2 miliar untuk menutup kebutuhan tim Macan Putih, terutama gaji pemain. Uang tombokan itu hingga sekarang juga belum dikembalikan oleh konsorsium PT Mitra Bola Indonesia.

Sunardi terpaksa menalangi kebutuhan gaji pemain karena dia menjadi pihak yang paling bertanggungjawab terhadap nasib tim. Bahkan rumahnya sempat didemo pemain yang belum menerima gaji selama beberapa bulan. “Dari total hutang Persik, sebagian memang ke Pak Sunardi,” kata Asisten Manajer Persik Arya Wisnu.

Sunardi mengeluarkan uang dari rekening pribadi karena dana dari konsorsium jauh di bawah kebutuhan tim. Akibatnya Persik limbung di tengah musim dan mengalami krisis keuangan. Praktis, untuk menutup gaji pemain dan operasional tim, terpaksa meminjam dari beberapa pihak.

Persema Malang juga mengalami situasi yang sama. Manajemen harus 'gotong royong' menambal kebutuhan operasional tim musim lalu. Walau tidak diketahui berapa hutang konsorsium kepada manajemen, namun pihak manajemen mengakui beberapa pihak harus merogoh saku pribadinya.

“Ada beberapa pengurus yang harus menalangi dulu karena situasinya musim lalu sangat tidak bagus. Kalau tidak begitu tim bisa terhenti di tengah jalan. Akhirnya kami berbuat apa saja agar tim bisa terus lanjut hingga musim berakhir. Untuk nominalnya saya kurang tahu pasti,” ungkap Asmuri, Manajer Persema Malang.

Klub lain pun mengalami hal serupa, seperti Persibo Bojonegoro yang juga mengalami krisis finansial musim lalu. Walau jumlahnya tidak terlalu signifikan, namun manajemen juga sempat harus pontang-panting mencari dana talangan agar tim bisa menyelesaikan kompetisi.

Situasi yang sungguh memprihatinkan. Manajemen yang seharusnya menikmati hasil kerja mereka dalam mengurus tim, justru harus tekor. Mereka yang rela mengeluarkan dana pribadi memang tidak mempunyai pilihan karena mau tak mau harus bertanggungjawab penuh terhadap nasib tim.