MALANG - Manajemen Arema FC versi Indonesia Super League (ISL) dan Pelita Jaya mempunyai terobosan baru menyiasati penyatuan kedua klub. Rencana merger yang menemui jalan terjal, akhirnya gugur dan Bakrie Grup menemukan solusi lebih jitu yakni mengakuisisi Arema ISL.

Ya, saham Arema ISL dibeli perusahaan yang selama ini mengelola Pelita Jaya yakni Pelita Cronous. Sebagai konsekuensinya, Pelita Cronous menjual nama Pelita Jaya kepada Bandung Raya yang ingin berlaga di ISL musim depan.

Dengan demikian, tidak ada rencana merger yang selama ini ditakutkan Aremania, supporter fanatik Arema ISL. Arema ISL tidak akan mengalami perubahan nama walaupun tim yang akan dipakai musim depan adalah gabungan tim Arema dan Pelita Jaya.

CEO Nirwana Pelita Jaya Iwan Budianto, Kamis (25/10) menjelaskan, sebenarnya skenario awal kedua tim memang dimerger. Namun manajemen kedua klub kesulitan dalam share saham, selain ada penentangan dari sebagian Aremania.

Iwan mengakui situasi itu sangat rumit dan bisa memengaruhi perjalanan tim ke depannya. “Akhirnya kami menemukan solusi yakni mengakuisisi Arema dan menjual nama Pelita Jaya. Jadi walau timnya gabungan, nama tetap memakai Arema,” papar Iwan Budianto.

Mantan Manajer Arema Malang dan Persik Kediri ini juga menjelaskan, nama Pelita Jaya bakal dipakai Bandung Raya yang ingin tampil di ISL musim depan. “Sahamnya sudah dibeli Bandung Raya. Tapi mereka hanya sebatas memakai nama saja,” ungkap Iwan.

Menurutnya bisa saja Pelita Cronous medanai Arema dan Pelita Jaya sekaligus. Namun tentu itu bukan solusi bagus karena perusahaan tidak bisa berdiri di dua klub berbeda di kompetisi yang sama. “Jadi inilah solusi terbaiknya,” cetus Iwan.

Iwan juga menyatakan sudah ada kesepakatan antara manajemen Arema ISL dengan Pelita Cronous terkait akuisisi ini. Dengan begitu musim depan dan seterusnya Bakrie Grup murni menjadi pengelola Arema dan bukan sebatas sponsor seperti beberapa musim belakangan.

Iwan juga mengakui, tidak mudah dalam mempertimbangan akuisisi Arema, karena Pelita Jaya selama ini menjadi klub kesayangan Bakrie. Tapi berhitung market serta aspek bisnis, Arema dipandang lebih menjanjikan karena memiliki daya jual lebih tinggi.

“Saya rasa semua sudah bisa membandingkan bagaimana prospek Pelita Jaya dan Arema. Berdasarkan pertimbangan kami, Arema memiliki daya jual yang jauh lebih hebat. Semua aspek dimiliki Arema, terutama supporter,” tandas Iwan.

Sementara, hingga berita diturunkan belum ada komentar resmi dari pihak manajemen Arema terkait akuisisi ini. Baik Presiden Kehormatan Arema Rendra Kresna maupun Direktur Utama Arema FC Ruddy Widodo belum bisa dihubungi.

Saga Arema-Pelita:
1. Tim Arema ISL dan Pelita Jaya disatukan dengan konsep kerjasama tiga bulan,mulai September lalu, dengan opsi utama adalah merger. Rencana semula merger sudah dilakukan paling lambat November.

2. Rencana merger gagal karena share saham cukup rumit antara Arema dan Pelita, serta adanya penentangan dari sebagian Aremania, supporter Arema.

3. Pelita Cronous mencari jalan tengah untuk meminimalisir persoalan di kemudian hari, terutama aspek suporter Aremania yang khawatir nama klub berubah jika terjadi merger.

4. Jalan tengah pun ditemukan, Pelita Cronous mengakuisisi saham Arema ISL dan melepas Pelita Bakrie ke Bandung Raya. Bandung Raya rencananya memakai nama Pelita Jaya musim depan.

5. Karena yang dijual hanya nama Pelita Jaya, maka tim gabungan yang sudah dijalankan sejak September lalu tidak terpengaruh. Tim asuhan Rahmad Darmawan tetap bertahan di Stadion kanjuruhan.

6. Solusi ini sekaligus menggugurkan rencana merger Arema-Pelita. Walaupun secara kasat mata, tim yang ada di Stadion Kanjuruhan adalah gabungan tim Arema dan Pelita.